Beranda / Artikel / KEPANTASAN JODOH
Edukasi Keluarga 👁 10 views

KEPANTASAN JODOH

Bukan Sekadar Mencari Pasangan, Tetapi Mempersiapkan Diri Menjadi Pasangan yang Baik

KEPANTASAN JODOH
KEPANTASAN JODOH

Bukan Sekadar Mencari Pasangan, Tetapi Mempersiapkan Diri Menjadi Pasangan yang Baik

Berbicara tentang jodoh selalu menarik. Ada yang sedang menunggu, ada yang sedang mencari, ada yang sudah menemukan tetapi masih dalam proses meyakinkan hati, dan ada pula yang pernah berharap begitu besar namun akhirnya harus belajar menerima bahwa tidak semua yang diinginkan manusia menjadi bagian dari takdirnya.

Memang, mencari pasangan hidup bukan perkara sederhana.

Jodoh bukan seperti memilih barang di etalase: melihat, menimbang, mencocokkan, kemudian membawa pulang yang dianggap paling sesuai. Di dalam persoalan jodoh terdapat doa, ikhtiar, pertimbangan, kesiapan, tanggung jawab, dan tentu saja ketentuan Allah سبحانه وتعالى.

Karena itu, barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:

“Siapa yang akan menjadi jodoh saya?”

Tetapi juga:

“Sudahkah saya mempersiapkan diri untuk menjadi jodoh yang baik bagi seseorang?”

Jodoh Adalah Bagian dari Ikhtiar, Bukan Sekadar Penantian

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

«وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ»

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas pemberian-Nya, Maha Mengetahui.”

(QS. An-Nur: 32)

Ayat ini mengajarkan bahwa pernikahan bukan sesuatu yang harus ditakuti hanya karena persoalan duniawi, termasuk kekhawatiran tentang rezeki. Namun ayat tersebut juga menyebutkan unsur الصالحين — orang-orang yang saleh/layak, sehingga persoalan pasangan tidak semata-mata tentang siapa yang menarik secara fisik atau siapa yang memiliki banyak harta.

Ada nilai kesalehan yang perlu diperhatikan.

Artinya, ketika seseorang menginginkan pasangan yang baik, ia pun seharusnya bertanya kepada dirinya sendiri:

“Sudahkah aku berusaha menjadi orang yang baik?”

Kita Sering Terlalu Sibuk Membuat Kriteria

Tidak sedikit orang yang mempunyai daftar panjang tentang pasangan ideal.

Harus cantik atau tampan.
Harus berpendidikan.
Harus mapan.
Harus penyayang.
Harus sabar.
Harus romantis.
Harus berasal dari keluarga baik.
Harus mempunyai pekerjaan yang bagus.
Harus mengerti agama.
Harus bisa memahami dirinya.

Semua itu boleh menjadi pertimbangan.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: kriteria untuk diri sendiri.

Kita begitu teliti menilai calon pasangan, tetapi kurang teliti ketika menilai diri sendiri.

Kita ingin mendapatkan pasangan yang sabar, tetapi apakah kita sudah mampu mengendalikan emosi?

Kita berharap mendapatkan seseorang yang lembut tutur katanya, tetapi bagaimana dengan cara kita berbicara ketika sedang marah?

Kita ingin mendapatkan pasangan yang setia, tetapi apakah kita sudah menjadi pribadi yang dapat dipercaya?

Kita menginginkan pasangan yang bertanggung jawab, tetapi apakah kita sendiri sudah siap memikul tanggung jawab rumah tangga?

Di sinilah konsep kepantasan menjadi penting.

Nabi ﷺ Mengajarkan Apa yang Perlu Diutamakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ»

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka utamakanlah yang memiliki agama.”

(HR. Bukhari no. 5090)

Hadis ini bukan berarti Islam mengabaikan kecantikan, harta, keturunan, atau aspek lainnya. Namun Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus kepada agama sebagai pertimbangan utama.

Mengapa?

Karena kehidupan rumah tangga tidak selamanya berada dalam keadaan mudah.

Ketika harta berkurang, agama menjadi pegangan.

Ketika kecantikan dan ketampanan berubah oleh usia, agama dan akhlak tetap menjadi sumber ketenangan.

Ketika terjadi perbedaan pendapat, akhlak membantu seseorang menahan diri.

Dan ketika kehidupan rumah tangga memasuki masa-masa sulit, iman mengingatkan bahwa pasangan bukan musuh yang harus dikalahkan, tetapi amanah yang harus dijaga.

Imam Al-Ghazali dan Pentingnya Agama serta Akhlak

Imam Abu Hamid Al-Ghazali رحمه الله dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, pada pembahasan tentang adab pernikahan, menjelaskan pentingnya memperhatikan agama calon pasangan. Beliau menerangkan bahwa pasangan yang memiliki agama dapat menjadi عوناً على الدين — penolong dalam menjalankan agama, sedangkan pasangan yang tidak baik agamanya justru dapat menjadi sesuatu yang mengganggu perjalanan seseorang menuju kebaikan.

Al-Ghazali juga menekankan حسن الخلق — akhlak yang baik sebagai perkara penting dalam memilih pasangan. Beliau menjelaskan bahwa buruknya perangai dan ucapan dapat membawa mudarat yang lebih besar daripada manfaat dalam kehidupan rumah tangga.

Ini merupakan pelajaran penting.

Sebab rumah tangga bukan hanya pertemuan dua orang yang saling mencintai.

Rumah tangga adalah pertemuan dua karakter, dua kebiasaan, dua keluarga, dua latar belakang, dan dua cara memandang kehidupan.

Karena itu, akhlak jauh lebih menentukan daripada sekadar kesan pertama.

Jangan Hanya Mencari Orang yang Baik, Jadilah Orang yang Baik

Ada sebuah kekeliruan yang sering terjadi dalam urusan jodoh: seseorang berdoa agar Allah mempertemukannya dengan pasangan yang saleh atau salehah, tetapi tidak banyak melakukan usaha untuk memperbaiki kesalehan dirinya sendiri.

Padahal, memperbaiki diri adalah bagian dari ikhtiar.

Kalau menginginkan pasangan yang penyabar, latihlah kesabaran.

Kalau menginginkan pasangan yang jujur, biasakan kejujuran.

Kalau menginginkan pasangan yang menjaga kehormatan, jagalah kehormatan diri.

Kalau menginginkan pasangan yang dekat dengan Allah, dekatkanlah diri kepada Allah.

Kalau menginginkan pasangan yang mampu menjaga rumah tangga, belajarlah menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Karena pernikahan tidak cukup dengan modal “saya punya niat baik.”

Niat memang penting. Tetapi setelah niat ada proses panjang: belajar, berusaha, memperbaiki kekurangan, mengendalikan ego, membangun kedewasaan, dan mempersiapkan kemampuan untuk menjalankan amanah.

Pertanyaan yang Lebih Jujur

Sebelum bertanya:

“Mengapa saya belum mendapatkan jodoh?”

mungkin ada pertanyaan yang lebih mendidik:

“Jika saya bertemu dengan seseorang yang sifatnya persis seperti saya, apakah saya sendiri bersedia menjadikannya pasangan hidup?”

Apakah saya akan merasa nyaman dengan cara saya berbicara?

Apakah saya akan merasa aman dengan karakter saya?

Apakah saya akan percaya kepada diri saya sendiri?

Apakah saya akan merasa dihargai oleh diri saya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terkadang terasa lebih berat daripada mencari pasangan.

Tetapi justru di sanalah proses kedewasaan dimulai.

Jodoh Bukan Tentang Kesempurnaan

Tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna.

Maka “mempersiapkan diri” bukan berarti harus menjadi manusia tanpa kekurangan sebelum menikah.

Bukan itu maksudnya.

Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Sebab pasangan hidup juga bukan manusia tanpa kekurangan.

Yang penting bukan menemukan manusia yang sempurna, melainkan menemukan seseorang yang memiliki nilai dasar yang baik, memiliki agama dan akhlak yang dapat dijaga, serta bersedia tumbuh bersama dalam kebaikan.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa masalah.

Melainkan rumah tangga yang memiliki cara untuk menghadapi masalah.

Jangan Hanya Meminta Jodoh yang Baik

Berdoalah agar Allah memberikan pasangan yang baik.

Tetapi iringilah doa itu dengan perbaikan diri.

Mintalah pasangan yang penyayang, sambil belajar menjadi penyayang.

Mintalah pasangan yang bertanggung jawab, sambil belajar bertanggung jawab.

Mintalah pasangan yang dewasa, sambil belajar mengurangi ego.

Mintalah pasangan yang menjaga agama, sambil memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Sebab bisa jadi, selama ini kita terlalu sibuk meminta:

“Ya Allah, berikan aku pasangan yang baik.”

Padahal Allah juga sedang mengajarkan kita:

“Persiapkan dirimu untuk menjadi pasangan yang baik.”

Pada Akhirnya, Kepantasan Itu Bukan Soal Kesempurnaan

Tidak perlu merasa minder hanya karena belum kaya.

Tidak perlu merasa rendah diri hanya karena belum memiliki kehidupan yang sempurna.

Dan tidak perlu pula membuat standar jodoh sedemikian tinggi hingga manusia biasa terasa tidak pernah cukup.

Allah berfirman:

«وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً»

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Tujuan pernikahan bukan sekadar memiliki seseorang untuk dipanggil “suami” atau “istri”.

Ada sakinah, ada mawaddah, dan ada rahmah.

Karena itu, jangan hanya bertanya siapa yang pantas menjadi pasangan kita.

Tanyakan pula:

“Sudahkah saya belajar menjadi seseorang yang dapat memberikan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat kepada pasangan saya kelak?”

Barangkali itulah bentuk ikhtiar yang paling sering terlupakan.

Jodoh memang berada dalam ketetapan Allah. Tetapi mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh adalah bagian dari tanggung jawab kita.

Berdoalah.

Berikhtiarlah.

Perbaikilah diri.

Dan ketika waktunya tiba, semoga Allah mempertemukan kita bukan hanya dengan seseorang yang kita cintai, tetapi dengan seseorang yang dapat bersama-sama membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

آمين يا رب العالمين
Catatan: artikel pada halaman ini merupakan media informasi dan edukasi. Materi tidak dimaksudkan sebagai diagnosis medis/psikologis dan bukan pengganti fatwa ulama.
← Semua Artikel Ajukan Layanan →